|
|
|
|
|
Orang Muda Makin Ngebet Nyapres
Posted on Nopember 6th, 2008 at 11:50 pm by nasrulwahdi and tagged Nyapres, Orang Muda
Obama Menang Di Pilpres Amrik
Kemenangan Barack Hussein Obama (47) atas politisi uzur John Mccain (72), tak lantas mendongkrak pasaran para pemuda yang ingin ikut Pilpres 2009.
“TOKOH muda di Indonesia masih muncul dengan cara yang instan, tiba-tiba. Sedangkan Obama muncul karena pintar dan berkualitas. Belum ada tokoh muda kita yang sekelas Obama,” kata analis politik dari Universitas Indonesia Profesor Iberamsjah kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Tapi, lanjut Iberamsjah, pada Pilpres 2014 tokoh muda akan menjadi kuda hitam yang berpotensi menumbangkah tokoh tua. “Perlu satu pemilihan lagi, barulah tokoh muda bisa bersaing. Yang muncul sekarang belum punya pengalaman yang cukup di pemerintahan. Jadi, masyarakat tidak bakal memilih mereka. Dengan begitu, parpol pun tak tertarik mengusung mereka,” bilangnya.
Namun, terpilihnya Obama sebagai presiden AS membuat semangat politisi muda di Indonesia naik. Beberapa tokoh muda yang menyatakan diri siap jadi capres, ingin sekali mengikuti jejak pria berdarah campuran Amerika dan Kenya itu.
“Obama akan mendidihkan perjuangan orang muda untuk menantang kaum tua di pilpres. Saya yakin angin perubahan dari Amerika akan tiba di Indonesia, menggerakkan orang muda untuk menjadi Obama, Obama baru,” kata fungsionaris Golkar yang ingin jadi capres, Yuddy Chrisnandy kepada RM, kemarin.
Menurut anggota Komisi I DPR ini, kemenangan Obama akan memicu pemberontakan terhadap tokoh tua di parpol. “Saya akan mempelopori pemberontakan di Golkar. Orang muda harus bangkit dan diberikan ruang. Kemenangan Obama menunjukan bahwa tokoh tua sudah tidak sepantasnya mengekang anak muda,” kata Yuddy dengan nada semangat.
Rizal Mallarangeng melontarkan pandangan serupa. “Kemengan Obama akan berdampak bagus. Sekarang ini segala sesuatu yang tidak mungkin, bisa jadi mungkin,” kata pria yang telah mengiklankan tampangnya di televisi ini.
Pemuda Ribut Melulu
Masih soal pemuda, Menpora Adhyaksa Dault mempertemukan dua kubu KNPI yang bertikai, yakni Ketua Umum KNPI versi kongres Bali, Azis Syamsudin dan Ketua Umum KNPI versi kongres Jakarta, Ahmad Doli Kurnia.
“Saya ingin ada rekonsiliasi dan keduanya sepakat rekonsiliasi,” kata Adhyaksa seusai mempertemukan Azis dan Ahmad Doli di kantornya, kemarin.
Adhyaksa berharap tidak ada dualisme kepemimpinan KNPI jika organisasi pemuda ini ingin eksis di tengah masyarakat. “Karena KNPI yang membutuhkan masyarakat, bukan KNPI yang dibutuhkan masyarakat,” tandasnya.
Menurut Menpora, jika pengurus KNPI terus berkonflik, masyarakat akan meninggalkan KNPI. Oleh karena itu, pihaknya memberi waktu seminggu pada kedua belah pihak untuk rekonsiliasi.
Ketua KNPI versi Ancol Ahmad Doli Kurnia menyambut baik apa yang dilakukan Menpora. Sebelumnya, ia menyangka Menpora mendukung salah satu Ketua Umum KNPI.
“Tetapi ini hari (kemarin) ada niat baik. Kalau pertemuan hari ini belum ada sesuatu yang didapatkan, tetapi ada itikad baik dan upaya menjaga kesatuan dan persatuan pemuda Indonesia,” kata Ketua Gerakan Muda Persaudaraan Muslim Indonesia (Permusi).
Ahmad berjanji dalam waktu seminggu akan mencari solusi terbaik. “Sampai sekarang kami belum mendapat kesepakatan bulat. Mudah-mudahan saya bisa membangun komunikasi dengan Bung Azis. Nanti kita lihat ke depan.”
Sementara itu, Azis Syamsuddin menyampaikan terima kasih kepada Menpora yang menjembatani masalah KNPI. “Tetapi rekonsiliasi harus berpihak dan berfakta kepada hukum, karena negara kita adalah negara hukum,” kata Ketua Umum Generasi Muda Gakari (Gerakan Karya Rakyat Indonesia).
Menpora juga mengingatkan, jika ada pihak yang melakukan kekerasan akan ditindak tegas secara hukum. “Jangan ada perebutan kantor KNPI dengan paksa. Kedua KNPI bisa menggunakan bersama-sama. Jangan sampai ada yang melakukan provokasi. Insya Allah ada jalan keluarnya,” ujar Adhyaksa.
Rakyat Merdeka | Kamis, 06 November 2008, 01:00:08
Kepemimpinan Kaum Muda Sebagai Jawaban Krisis Kebangsaan
Posted on Nopember 1st, 2008 at 7:35 pm by nasrulwahdi and tagged Kaum Muda, kepemimpinan
Jawabannya adalah di pundak kaum muda. Jawaban yang tidak terlalu berlebihan jika didasarkan atas historis akan sepak terjang kaum muda sepanjang perjalanan bangsa Indonesia. Delapan puluh tahun silam pada masa-masa kelahiran bangsa dan negara Indonesia, tiga butir sumpah yang menegaskan identitas sebuah bangsa yang bermuasal dari berjuta-juta perbedaan, dari mulai latar belakang suku, ras, agama, bahasa, serta aneka perbedaan lainnya, merekalah kaum muda yang memproklamasikan semangat persatuan sebuah bangsa yang ada dalam satu ketertindasan akibat penjajahan. Ya, sumpah pemuda 1928 adalah monumen terindah yang telah kita buat, sebagai embrio dari monumen kemerdekaan 17 agustus 1945. Mereka juga kaum muda yang meng-Indonesiakan Sabang sampai Merauke.
Sukarno-Hatta-Syahrir adalah sosok pemuda yang paling maju di jamannya. Kaum muda yang punya sikap dan keberanian menghantam segala bentuk penindasan. Pasca merdeka, kaum muda terus bermetamorfosa dan melakukan regenerasi tiada henti, mengiringi dinamika jaman. Tahun 1966 kaum muda membawa Indonesia ke pangkuan orde baru, 32 tahun kemudian kaum muda menginginkan perubahan yang lain, lahirlah orde reformasi. Hingga detik ini nafas kaum muda terus berdetak menghembuskan semangat perubahan.
Kaum muda secara umum ditafsirkan sebagai sekelompok orang yang berusia muda dalam pengertian fisik. Namun ukuran muda sebenarnya bukan hanya terletak pada faktor usia, yang lebih penting adalah jiwa (psikis) yang penuh semangat muda, kuat, dan berpihak pada rakyat. (Berkualitas, Inovativ, Berani dan Amanah)
Posisi kaum muda ditempatkan oleh bung Karno di tempat setingi-tingginya. Bung Karno pernah mengatakan, “Berikan aku sepuluh orang tuan maka aku akan pindahkan gunung semeru, tapi berikan pula aku sepuluh orang pemuda yang bersemangat maka dunia akan aku tundukkan.”
Dengan bahasa hiperbola, Bung Karno telah memberikan gambaran bahwa betapa hebatnya pemuda, hanya dengan modal semangat, pemuda mampu menaklukan dunia. Begitu memang yang terjadi, dinamika negara tidak luput dari gerakan kaum muda, jatuhnya orde lama di tahun 1966 dimotori oleh aksi mahasiswa, rezim orde baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun pun digulingkan oleh gerakan pemuda di tahun 1998. itu merupakan bukti dari kekuatan kaum muda. Namun sayang, kaum muda selalu menepi ketika terjadi kekosongan kekuasaan, kaum muda seperti tersingkir atau menyingkirkan diri pasca jatuhnya pemerintahan, seperti yang terjadi pasca 1998, agenda reformasi diserahkan pada golongan tua yang notabene kurang memiliki ketegasan sikap, terbukti dengan fenomena kekinian dengan maraknya ratifikasi agenda neoliberal dengan aneka wajah, tak bisa dihindarkan. Negara terkesan hanya boleh dikendarai oleh golongan tua, ada memang pemuda yang duduk di jajaran birokrasi, itupun para pemuda yang berjiwa tua, mereka para pemuda yang hanya tunduk pada keadaan.
Kaum muda merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan, karena kaum muda bergerak atas nilai-nilai idealisme dan moralitas dalam melihat persoalan yang ada. Mereka adalah sosok yang merindukan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup ini.
Maka di negara manapun, sosok kaum muda selalu menjadi perhatian yang khusus oleh banyak kalangan. Sebab di tubuh kaum muda inilah segenap tumpuan masa depan bangsa dipertaruhkan. Orang bijak sering mengatakan, masa depan bangsa yang baik adalah masa depan yang memiliki kaum muda yang unggul, kompetitif dan baik pula saat sekarang. Sebagai contoh kita lihat misalnya di India, melalui tangan Manmohan Singh, menteri keuangan India, yang menyekolahkan anak-anak muda India ke luar negeri dan menyerap ilmu terbaik langsung dari sumbemya telah mengubah wajah India saat ini. Sehingga Bangalore dan Hyderabad telah menjadi semacam technopark seperti halnya Lembah Silikon di Amerika Serikat.
Begitu pula yang kita saksikan dengan kebijakan Deng Xiao Peng untuk mengkapitalisasi perekonomian Cina kemudian membuka kesempatan besar bagi pemuda-pemuda Cina untuk belajar ke luar negeri, hasilnya telah mengubah wajah Cina menjadi raksasa ekonomi di awal abad 21 yang ditakuti oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dengan begitu pentingnya sosok kaum muda, Proklamator Republik Indonesia Soekamo sendiri pemah melontarkan pikirannya tentang optimismenya bersama kaum muda, “berikan kepadaku para kaum muda, maka akan ku ubah bangsa ini menjadi lebih baik” ungkap Soekamo.
Perhatian dan optimisme bangsa bersama kaum muda untuk melakukan sebuah perubahan tentu benar adanya demikian, sebab sosok kaum muda adalah sosok yang memiliki karakter yang unik. Diantara keunikannya itu adalah, bahwa kaum muda memiliki semangat baru dan senantiasa bergejolak, keberanian untuk mengambil resiko besar, serta memiliki pandangan yang jauh menembus masanya. Buktinya, melalui tangan kaum mudalah kemerdekaan Republik ini bisa direbut dari jajahan kolonial. Di republik ini, sebenarnya rakyat telah melakukannya. Bukan hanya sekedar wacana. Misalnya Ratu Atut gubernur Banten, ketika terpilih usianya tidak lebih dari 45 tahun. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Dede Yusup tampil sebagai pemenang dalam PILGU Jabar, mengalahkan pasangan Dany Setiawan dan Agum Gumelar yang dipandang telah memiliki segalanya. Juga usianya baru 42 tahun. Lalu, Rustiningsih, yangs ekarang menjadi wakil gubernur di Jawa Tengah, juga masih muda. Usianya sekitar 42 tahun. Kemudian, Chopipah Indahparawangsa dan Saepullah Yusup, juga meraka masih muda. Artinya, ini menunjukan bahwa rakyat sebenarnya ingin ada perubahan dari para pemimpin sebelumnya yang nota bene merupakan “Kaum Tua”. Rakyat telah berbuat…tinggal sekarang bagaimana menjadikan mereka sebagai pemimpin muda yang berkualitas, Inovativ, amanah dan berani.
Ditengah krisis kebangsaan yang kita hadapi saat ini, tampilnya kepemimpinan kaum muda menjadi harapan banyak kalangan. Bahkan menjadi sebuah solusi yang tepat saat ini. Banyak catatan sejarah yang telah menunjukkan keberhasilan kepemimpinan kaum muda tersebut. Saat sekarang saja misalnya, munculnya sosok Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran, Hugo Cavez sebagai presiden Venezuela, Evo Morales sebagai Presiden Bolivia, dan munculnya kandidat Barac Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat nanti yang merepresentasikan kepemimpinan kaum muda menunjukkan apresiasi publik terhadap mereka. Apalagi ketika para pemimpin tersebut mampu membawa institusi negara atau kekuasan yang dimiliki sebagai sarana mewujudkan kedaulatan bangsa dan membangun tatanan perikehidupan yang berkeadilan dan demokratis, menuju kemandirian secara ekonomi, politik dan budaya (Jafar, Dadang)
Catatan :Penulis, Japar, Pendiri Forum Aktivis Bandung, dan Mahasiswa UPI Bandung, Dadang Sudardja, Sekjen Koalisi Ornop Jawa Barat, Ketua KP Sarekat Hijau Indonesia –Jawa Barat, Kadiv Kebangsaan Forum Aktivis Bandung.
http://www.berpolitik.com/viewnewspost.p…
Pemuda, Pemecah Kesunyian Sejarah
Posted on Nopember 1st, 2008 at 7:25 pm by nasrulwahdi and tagged Pemecah Kesunyian Sejarah, Pemuda
Momentum peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda saat ini sudah seharusnya dimanfaatkan sebagai ajang introspeksi peran pemuda dalam perjuangan pada bentuk yang berbeda.
Introspeksi tersebut menjadi relevan karena saat ini kaum muda tampaknya kembali menuntut perannya dalam berbangsa. Tahun lalu misalnya, saat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-79, muncul jargon-jargon yang dikumandangkan sekelompok kaum muda: “Saatnya kaum muda memimpin” dan “jalan baru, pemimpin baru”. Oleh sejumlah kalangan, jargon-jargon tersebut diindikasikan sebagai sebuah momentum kesadaran akan perlunya kebangkitan pemuda Indonesia.
Setidaknya, inilah saat yang tepat untuk mempertanyakan kembali kiprah tokoh-tokoh muda di Tanah Air. Munculnya jargon-jargon semacam itu, menurut Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) Adhyaksa Dault, tidak bisa serta-merta disimpulkan sebagai sebuah bentuk kekecewaan kaum muda kepada generasi tua yang dianggap gagal membawa bangsa ini pada perbaikan.
“Harus menggunakan perspektif yang lebih luas untuk melihat jargon-jargon itu ketimbang memaknainya sebagai bentuk nafsu kuasa,” ujar Adhyaksa. Mantan Ketua Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI, periode 1999-2002) itu menilai jargon-jargon tersebut merupakan bentuk kesadaran kaum muda untuk aktif dan peduli politik.
Lantas, bagaimana sejatinya peran pemuda saat ini? Berikut ini petikan wawancara dengan Menegpora yang ditemui di kantornya pekan lalu.
Sejak era sebelum kemerdekaan hingga awal Reformasi, kaum muda selalu berperan penting dalam proses perubahan di negeri ini. Mungkinkah momentum itu terjadi kembali?
Itu sesuatu yang sangat mungkin, sebab hal itu adalah keniscayaan sejarah. Konstelasi politik yang terbentuk di hampir setiap negara sampai detik ini masih menempatkan pemuda dalam posisi terdepan yang bisa diharapkan untuk memecahkan kebekuan. Tetapi, kemampuan tersebut tentu saja bukan monopoli kaum muda.
Meski begitu sejarah membuktikan, pemuda selalu punya peran penting dalam perubahan. Karena, pemuda punya jarak yang sedemikian rupa untuk memisahkan dirinya dengan konstelasi dan praktik kekuasaan. Saya tidak mengatakan pemuda itu independen. Tetapi, dibandingkan generasi tua, peluang kaum muda untuk memecah kebekuan jauh lebih besar.
Lantas, apa tantangan pemuda saat ini?
Memang masih ada keprihatinan terhadap pemuda saat ini seperti dalam kemampuan menjaga emosi. Banyak yang mudah marah. Buktinya, banyak tawuran yang hanya disebabkan hal-hal sepele. Banyak juga pemuda yang tidak mudah untuk mengendalikan kesenangan yang didapatkannya sehingga sering mengekspresikan dalam hal-hal yang berlebihan. Seperti menonton konser misalnya, banyak tindakan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Masalah-masalah ini harus diperhatikan.
Pada peringatan Sumpah Pemuda tahun lalu sempat muncul jargon “Saatnya Kaum Muda Memimpin” atau “Jalan Baru, Pemimpin Baru” dan seterusnya. Bagaimana Anda melihatnya?
Kalau Anda berpikir itu adalah indikasi munculnya kesadaran politik baru atau semacam enlightment (pencerahan) dari kaum muda di bidang politik, saya menyarankan agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Saya melihat positif pemuda yang terlibat aktif dalam politik. Seperti pendapat Huygen, mereka adalah generasi yang kreatif dan inovatif. Ini dua pilar keberlanjutan pembangunan. Itu juga dua elemen yang dibutuhkan untuk keberlangsungan demokrasi dan pada gilirannya berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Jadi, ini perspektif untuk melihat jargon-jargon itu ketimbang memaknainya sebagai bentuk nafsu kuasa. Sebagai penumbuh kesadaran untuk aktif dan peduli dengan politik. Peduli dengan apa yang terjadi di parlemen atau pemerintahan. Itulah yang sebenarnya hendak disampaikan. Kalau tidak punya kesadaran untuk peduli, bagaimana bisa memecah kebekuan?
Sejalan dengan itu, apakah sudah kini saatnya melahirkan UU Kepemudaan?
Saya kira UU Kepemudaan itu menjadi kebutuhan. Zaman berubah, karena itu kita butuh infrastruktur sosial politik baru yang lebih memadai. Perlu dipahami, UU ini bukan latah atau untuk gaya-gayaan saja. Sampai saat ini, UU Kepemudaan masih kami rumuskan. Tujuannya sederhana, yakni mendorong sekaligus memastikan agar kaum muda ditempatkan sebagai subjek dalam pembangunan, agar tersedia lebih banyak akses untuk berkiprah dalam pembangunan.
Apakah saat ini kaum muda belum menjadi subjek utama pembangunan?
Di beberapa bidang, arus besar pembangunan kita sudah sedemikian rupa menempatkan pemuda sebagai subjek utama. Anda bisa lihat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan pemakaian narkoba dan seterusnya. Tapi dalam hal lain, pembangunan ekonomi misalnya, kaum muda belum begitu berperan.
Dalam politik belum maksimal. Tapi ini juga terkait dengan kapasitas dan pengalaman. Jadi, sifatnya dua arah, tidak bisa berdiri sendiri dan dipaksakan. Yang perlu ditekankan adalah keterlibatan aktif pemuda dalam pembangunan yang akan mendorong tercapainya perbaikan mutu pendidikan, peningkatan kualitas hidup, pelindungan hukum, dan hak asasi manusia yang pada akhirnya berdampak terhadap kelangsungan masa depan Indonesia.
Bagaimana seharusnya kaum muda sekarang merefleksikan gerakan pemuda 1928?
Saya tidak akan menggunakan pendekatan bernada sentimentil dalam persoalan ini. Misalnya bagaimana dulu kakekbuyut kita berjuang melawan penjajah, mengorbankan segalanya, dan seterusnya. Itu harus kita hargai dan jangan pernah dilupakan. Tapi jika kita berhenti di situ, saya khawatir Sumpah Pemuda akan dimaknai sekadar bagian dari romantisme sejarah Indonesia masa lampau, yang hanya mendapat tempat di museum. Apa yang kita dapatkan niscaya akan lebih banyak jika kita berusaha menangkap semangat yang berkembang pada masa itu.
Atmosfer yang hidup di tengah mereka dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk melakukan sesuatu pada hari ini. Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap 28 Oktober mengingatkan kita atas pentingnya dua hal: menangkap semangatnya dan menjadikannya inspirasi untuk melakukan sesuatu pada hari ini. Benar bahwa masa mereka hidup adalah masa ketika ideologi-ideologi besar tengah bergemuruh.
Kapitalisme, sosialisme, itu terus-menerus berdialog silih berganti di kepala mereka. Tapi, saya kira, mereka adalah orang-orang yang memilih untuk kehilangan kemudaannya. Kaum muda sekarang berada dalam kondisi “kritis”. Maksud saya, kalau kita lihat, etos dan semangat kaum muda setelah masa Reformasi agak sedikit mengendur. Dalam arti tidak sekuat sebelumnya.
Bisa dijelaskan makna dan filosofi Menara Pemuda yang akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 Oktober 2008?
Bangunan itu didirikan dengan menggunakan tanah dan air dari 33 provinsi di Indonesia yang dibawa oleh semua pemuda dari seluruh negeri. Ini mempunyai makna filosofis bahwa bangunan itu tidak sekadar patung, tetapi sarat makna sebagai perekat bangsa dan semangat generasi muda untuk bersatu membangun dan mempertahankan negeri ini. Hal itu tidak boleh sebatas ngomong, tetapi harus diterjemahkan dalam program jelas yang akan membawa kita pada cita-cita suci tersebut.
Menara itu merefleksikan semangat pemuda, terutama dalam menjaga keutuhan negara-bangsa Indonesia. Itu yang utama. Semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan harus terus dipupuk ke anak cucu, terutama bagi generasi muda. Ada rangkaian acara yang melengkapi peresmian menara itu seperti pemberian penghargaan kepada pemuda pelopor tingkat nasional di lima bidang, yaitu kewirausahaan, pendidikan, teknologi tepat guna, budaya dan pariwisata, serta kebaharian.
Lalu juga Jambore Pemuda Indonesia yang akan mengundang 1.200 pemuda dari seluruh provinsi di Indonesia di Cibubur, kemudian bakti pemuda ke daerah-daerah, antarprovinsi.
Dengan demikian para pemuda itu akan berbaur bersama tanpa sekat apa pun?
Saya berharap apa yang kamilakukan itu, meski tidak bisa dibayangkan sebagai suatu gerakan yang besar, bisa menjadi pengingat bagi kaum muda untuk terus memperbaiki diri dan berkaca demi kemajuan, persatuan, dan kesatuan bangsa kita.� (sindo//mbs)
http://news.okezone.com/index.php/ReadSt…
Kaum Muda Tak Laku Dalam Pilpres 2009
Posted on Oktober 27th, 2008 at 7:40 pm by nasrulwahdi and tagged Kaum Muda, Pilpres 2009
Sumpah Pemuda telah berumur 80 tahun. Ironisnya, belum ada satu pun tokoh pemuda yang laku jika ikut Pemilihan Presiden 2009.
Jakarta, RM. Setidaknya, begitulah hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang bertajuk Kepantasan Tokoh Muda Menjadi Presiden RI. Survei ini digelar pada 6-24 Oktober 2008 di 33 provinsi di Indonesia. Jumlah sampel 1.230 orang, diwawancarai secara tatap muka, dengan tingkat kesalahan 2,8 persen.
Secara garis besar, menurut Direktur Eksekutif LSN Umar S Bakry, survei ini menunjukkan, tokoh-tokoh muda masih kalah jika diadu dengan tokoh-tokoh lama.
“Kepantasan kaum muda untuk menjadi presiden, paling tinggi 20 persen, masih jauh di bawah SBY dan Mega yang mencapai kisaran 50 persen. Ini mengindikasikan, golongan tua masih dipercaya publik untuk memimpin negeri ini ketimbang kaum muda,” urai Sekjen Asosiasi Riset dan Opini Publik Indonesia (ARO¿PI) ini kepada Rakyat Merdeka.
Berdasarkan berbagai survei yang telah digelar LSN, Umar menganalisa, jangankan terpilih menjadi presiden, peluang para tokoh muda untuk menjadi capres pun masih amat kecil. “Banyak parpol yang sudah menggelar survei capres, tentu mereka tahu tokoh pemuda belum laku dijual dalam Pilpres 2009. Parpol tentu tidak mau mengusung capres yang tak laku,” urainya.
Selain itu, menurut Umar, kebanyakan tokoh pemuda yang kelihatannya ingin tampil sebagai capres, belum memiliki track record yang luar biasa dalam pemikiran dan pergerakan yang berdampak luas bagi bangsa dan negara.
Sementara itu, terkait Sumpah Pemuda, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif mengatakan, pemuda kerap kali berhasil menjebol sebuah kekuasaan, tapi masih belum mampu untuk membangun.
“Untuk itu perlu dihadirkan konspesi nasionalisme yang lebih positif dan progresif, dimana nasionalisme tidak selalu bersandar pada apa yang bisa dilawan, melainkan juga pada apa yang bisa kita tawarkan,” katanya.
Sedangkan budayawan Garin Nugroho berpandangan, pemuda saat ini hidup di tengah proses berbagai perebutan nilai dan kekuasaan dalam skala lokal, nasional dan global yang bertempur mengelola aspek yang paling instrumental, yaitu politik massal dan pasar tanpa etika.
Sehingga yang terjadi, pemuda dalam aspek ekonomi dan politik, tidak dilihat sebagai warga negara yang mempunyi hak dan kewajiban, namun massa yang dihitung untuk politik hingga sebagai surga konsumen dengan jumlah yang luar biasa. “Untuk itu mari segera kita bentuk peta perjalanan baru Indonesia,” ajaknya.
Posted in
Pemimpin Muda
|
No Comments
Anak Muda Jadi Komoditas Elit
Posted on Oktober 27th, 2008 at 7:34 pm by nasrulwahdi and tagged Anak Muda
Kaum muda kini ramai jadi dagangan partai politik menjelang Pemilu 2009. Anak muda dianggap cenderung lebih visioner. Tapi, kenapa kaum muda hanya dijadikan komoditas politik oleh parpol? Jagad politik nasional, setahun belakangan, dihiasai kabar soal anak muda. Sejumlah parpol mengusung keinginan membawa anak muda jadi pemimpin bangsa. Sebagian lain, memberi peluang luas kepada kalangan muda duduk di parlemen.
Meski masih mengunakan persentase, parpol seperti berlomba mengklaim akomodasi caleg dari kalangan muda. Partai Golkar, misalnya, mengklaim 60% mengakomodasi caleg usia muda. PDI Perjuangan dan PKS masing-masing mengklaim mengakomodasi caleg muda sebanyak 70%.
Menurut aktivis 98 yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (Lima), Ahmad Fauzi Ray Rangkuti, jika melihat pendekatan partai politik serta fasilitas yang didapat oleh caleg muda, parpol hanya menjadikan mereka sebagai komoditas politik semata. “Karena di banyak tempat anak muda hanya menjadi kelas dua di partai politik,” ujar Ray kepada INILAH.COM, Senin (27/10) di Jakarta.
Ray membandingkan fasilitas yang didapat antara caleg muda dengan anak para pejabat partai politik. Dalam penilaian Ray, caleg muda dengan latar belakang aktivis tak mendapat posisi yang semestinya diraih. “Karena jika diadu, ya jauh antara caleg muda berlatar belakang aktivis dengan anak para pejabat partai,” tegasnya.
Terkait kiprah anggota legislatif yang berlatar belakang aktivis dalam Pemilu 2004 lalu, dalam pandangan Ray, tidak maksimalnya para anggota legislatif dari anak muda karena persoalan kuantitas yang belum maksimal. “Ini persoalan kuantitas anggota legislatif dari kaum muda,” cetusnya.
Ray yakin dengan modal yang dimiliki anak muda, yaitu memiliki jiwa visioner, kesejarahan pemuda, serta kapasitas yang dimiliki akan bisa melakukan perubahan. “Saya optimistis dengan modal yang dimiliki kaum muda, maka sangat terbuka melakukan perubahan,” ujarnya.
Meski demikian, terkaitnya beberapa kasus korupsi yang melibatkan kader muda dalam kancah politik nasional, mestinya menjadi catatan penting dalam perjuangan kaum muda. Lihatlah kasus tertangkap basahnya bekas politisi PPP Al Amin Nur Nasution atau aliran dana DKP yang menyeret politisi PKS Fachry Hamzah. Simak juga dugaan aliran dana BI yang menyeret beberapa nama politisi muda seperti Andi Rahmat, termasuk beberapa aktivis muda di organisasi kepemudaan lainnya, harus menjadi catatan penting.
Ray menilai, muara dari persoalan munculnya ‘pekerja politik’ di kalangan anak muda tidak terlepas dari minimnya kaum muda di wilayah publik seperti parlemen. “Ini semua tidak terlepas dari struktur budaya politik. Apalagi politik itu komunitas, sedangkan anak muda masih sedikit,” katanya.
Pandangan berbeda muncul dari Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman) Fadjroel Rahman. Dia menanggapi sinis keterlibatan kaum muda dalam kancah politik dengan terdaftar sebagai calon anggota legislatif. “Itu tidak terlepas dari macetnya kaderisasi di partai politik,” tegasnya.
Menurut dia, keterlibatan anak muda dalam pencalegan yang tanpa melalui proses kaderisasi serta pendidikan politik, sama saja mengkerdilkan posisi kaum muda. Menurutnya, dalam banyak kasus, anak muda merasa enjoy dengan komunitas yang anti-demokrasi. “Lihat saja Budiman Sudjatmiko, dia tidak bisa berbuat apa-apa atas kasus korupsi yang melibatkan sejumlah elit PDIP sebagaimana laporan dari Agus Condro,” katanya.
Fadjroel yang kini tengah berupaya melakukan uji materi atas UU Pilpres No 23/2003 di Mahkamah Konstitusi (MK), menilai kritisisme anak muda hilang ketika masuk sistem partai politik yang tak demokrtais. “Budiman diam saja. Kalau dia bersuara, pasti akan terlempar dari nomor urut pertama di Cilacap,” tegasnya.
Slogan kaum muda memimpin patutnya menjadi catatan penting bagi kaum muda. Tidak hanya sekadar kampanye sloganitas semata. Visi yang maju serta perjuangan yang berpijak pada kepentingan publik sepertinya menjadi pembeda mana yang ‘tua’ dan mana yang ‘muda’.
Posted in
Pemimpin Muda
|
No Comments
Nasionalisasi di Mata Capres Muda
Posted on Oktober 27th, 2008 at 7:32 pm by nasrulwahdi and tagged Capres Muda
M. Fadjroel Rachman tak main-main soal keikutsertaannya dalam bursa calon presiden. Dia mengusung program nasionalisasi aset sebagai solusi keluar dari kemelut bangsa. Tapi, ekonom Avilliani menilai nasionalisasi bukan soal utama. Laksana calon muda lainnya, Fadjroel Rachman belum punya banyak modal kecuali keyakinan. Dia yakin, masyarakat percaya dengan ide-idenya. Salah satunya, ya nasionalisasi aset strategis negara itu: minyak, gas, tambang, dan telekomunikasi.
Fadjroel menjanjikan proses itu paling lambat bisa berlangsung dua tahun. Bahkan, dia pun yakin dalam setahun, Indosat, Natuna, dan Blok Cepu menjadi milik Indonesia. “Ini perjuangan Merah Putih. Ini pula yang ingin saya yakinkan pada masyarakat,” katanya usai diskusi publik bertema ‘Presiden Baru Bicara Burma’, di Gedung YLBHI, Jakarta, Jumat (8/8) siang.
Semudah membalik telapak tangan? Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman) Indonesia itu tak khawatir soal sumber daya manusia dan teknologi, jika aset itu dinasionalisasi.
Dia mengaku pernah menanyakan kesiapan itu kepada Ketua Masyarakat Geologi Indonesia, Dr. Andang Bachtiar. Apa jawab Andang? “Dari dulu kita sudah siap!”
Nasionalisasi aset negara bukan satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan bangsa. Ekonom INDEF, Aviliani, bahkan mengingatkan nasionalisasi bukan lagi hal yang relevan dalam konteks ekonomi sekarang ini. Persoalannya, menurutnya, bukan pada nasionalisasi atau bukan; tetapi bagaimana sumber daya alam Indonesia bisa dinikmati masyarakatnya.
Akibat yang muncul dari kondisi itu, misalnya, kelangkaan BBM dan gas di mana-mana. “Itu kan yang menyebabkan orang menekankan tentang pentingnya nasionalisasi. Sehingga, semua barang-barang ingin kita yang punyai,” tandasnya.
Menurut Aviliani, persepsi yang salah itu yang kemudian diyakini mayoritas masyarakat. Padahal yang menjadi persoalan adalah mengenai keberadaan atau ketersediaan komoditas di pasar domestik.
Untuk itu, Aviliani menyarankan, perusahaan-perusahaan wajib mentaati domestic market obligation (DMO). “Nah DMO itu harus ada law enforcement-nya. Jika tidak, tentu yang muncul adalah kelangkaan,” katanya.
Posted in
Pemimpin Muda
|
No Comments
Pemimpin Muda adalah Pemimpin Yang Dipilih Kaum Muda dan Berjiwa Muda
Posted on Oktober 27th, 2008 at 7:23 pm by nasrulwahdi and tagged Berjiwa Muda, Dipilih Kaum Muda, Pemimpin Muda
Pengertian pemimpin kaum muda bukan hanya fisiknya saja, tapi memiliki semangat mencari jati diri, semangat kebebasan, kemerdekaan jiwa didalam berekspresi dalam memperjuangan nilai kebenaran, kebersamaan, keadilan, dan nilai-nilai lainnya untuk memujudkan kehidupan yang lebih beradab. Demikian diungkapkan Budi Praptono (Aktivis Senior KKMB,Ketua Forum Komunikasi Sosial Masyarakat Merah Putih Bersatu-FKSM MPB) dalam Diskusi PROSPEK KAUM MUDA DALAM KEPEMIMPINAN BANGSA Dan Sosialisasi Kongres Kaum Muda Jabar 28 Oktober 2008, Belum lama ini di Mekar Sari Baleendah Kab. Bandung.
Hadir dalam diskusi tersebut nara sumber lainya yaitu Radhar Tri Baskoro ( Ketua Forum Aktivis Bandung),Maman Abdurahman (Aktivis Senior ’79, Anggota DPRD JABAR) dipandu Moderator Asep Rohmandar (Aktivis Merah Putih Bersatu).
Lebihlanjut Budi mengatakan bahwa bisa saja orang yang berusia tua asuk kategori pemimpin kaum muda asal mempunyai semangat dan kemampuan dinamis untuk sebuah perubahan.
“Apakah orang yang berusia tua bisa masuk kategori kaum muda? Jawabanya Ya. Orang yang berusia tua kalau mempunyai semangat yang dinamis menuju perubahan, itu sesungguhnya berjiwa muda!” Kata Budi yang juga pakar Manajemen dari IT Telkom.
Menyinggung mengenai kebangkitan Indonesia, Budi mengatakan sebagai bangsa timur yang beradab, yang selayaknya memimpin peradaban dunia. Bukankah kita lebih senang hidup Mandiri merdeka, tidak dijajah, tidak bergantung kepada segelintir bangsa yang yang mempunyai kekuasaan modal (kapital)?
“Bukankah kita adalah bangsa yang berdaulat dan berbhinneka. Bebas menentukan pikiran dan peradaban budaya kita sendiri tanpa harus menjadi bangsa lain dan menjadi sasaran Intervensi bangsa-bangsa lain tersebut” Kata Budi.
“Kita harus berani bermimpi Indonesia akan menjadi pusat peradaban tata dunia baru, yang mengusung nilai-nilai luhur, yang mengedepankan nilai-nilai spiritual, yang bukan mengedepankan senjata. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh bangsa beradab di seluruh jagat raya ini.” Katanya.
Menurut Budi, sekarang ini orang kelihatan trend beragama itu kesannya masih mengarah kepada kegenitan beragama, tidak mengarah kepada peningkatan ruh, spiritual, yang masih malu atau takut berbicara sosialisme. Sesungguhnya, kalau kita merasa bergama tapi tidak sosialis sebenarnya diragukan keberagamaannya.
“Padahal Sosialisme itu inti pokok dari ajaran agama, tetapi sosialisme yang tidak pilih kasih terhadap kelompok atau golongan tertentu” Kata Budi.
Mengenai krisi ekonomi yang menimpa Negara maju saat ini menurut Budi sesungguhnya diluar akal sehat.
“Krisis ekonomi dunia (AS) yang menimpa saat ini sungguh diluar akal sehat.Bagaimana bisa terjadi amerika yang banyak orang - orang pintar secara intelektual, orang-orang berkuasa, akhirnya menjelang ambruk. Begitu juga dengan Indonesia, keadaan semakin tidak menentu. Saya yakin peradaban yang dibangun hanya oleh kekuatan intelektual tanpa kekuatan spiritual yang kuat dipastikan mudah roboh dan keropos” Kata Budi.
Posted in
Pemimpin Muda
|
No Comments
‘Pemuda Idol’ PKS Akan Urus Negara
Posted on Oktober 11th, 2008 at 5:28 pm by nasrulwahdi and tagged Pemuda Idol
Partai Keadilan Sejahtera akan membuka audisi untuk menjaring pemuda-pemuda di seluruh Indonesia. Audisi itu untuk menggalang partisipasi pemuda Indonesia sebagai harapan bangsa di masa datang.
Penjaringan tokoh-tokoh muda yang dimulai sejak awal bulan ini di beberapa daerah itu, nantinya diharapkan akan menjadi idola Indonesia atau tokoh pemuda harapan bangsa. Dari hasil penjaringan itu, nantinya akan mengerucut menjadi 100 nama untuk seluruh Indonesia.
Ketua Tim Pemenangan Pemilu Nasional (TPPN) PKS Anis Matta mengatakan, audisi ini akan dilakukan di 33 provinsi. Tiap Dewan Pimpinan Daerah (DPD) mencalonkan 100 orang untuk diikutsertakan dalam audisi nasional atau pusat.
“Deklarasi pemuda ini akan di-launching beserta tokoh pemuda yang telah dijaring secara nasional. Ke-100 orang ini akan di daftarkan secara nasional pada 25 Oktober. Sulsel, juga boleh mencalokan tokoh pemudanya untuk deklrasi pemuda Indonesia,” papar Anis, di Makassar, Rabu (8/10).
Semua kalangan, jelas Anis, boleh mengikuti audisi ini. Baik dari unsur LSM, akdemisi, pengusaha muda, seniman, budayawan, dan politisi, serta kelompok professional. Termasuk kader di luar PKS.
Di depan ribuan kader PKS, Anis berharap dari 100 orang nominator nasional itu, nantinya akan lahir tokoh muda yang akan menjadi pemimpin bangsa. Dan tentunya akan menjadi panutan para pemuda dan idola semua orang.
“Kalau negara ini susah diurus, maka diperlukan anak muda untuk mengurusnya. Karenanya, PKS akan mempelopori bangkitnya anak muda di negara ini,” ujarnya.
INILAH.COM
PKS Serius Lahirkan Capres Alternatif
Posted on Oktober 11th, 2008 at 5:25 pm by nasrulwahdi and tagged Capres Alternatif
PKS kini makin serius menyiapkan calon presiden alternatif.
Langkah ini ditempuh agar terjadi regenerasi kepemimpinan bangsa
sekaligus memberi peluang munculnya kalangan muda.
Menurut Sekjen PKS Anis Matta, capres alternatif itu salah seorang
dari 100 orang pemuda yang akan dideklarasikan pada 25 Oktober di
stadion Gelora Bung Karno. Sebelum di deklarasikan, 100 nama itu akan
diajukan ke Tim Pemenangan Pemilu Nasional (TPPN). Proses seleksinya,
setelah DPW mengajuka nama, lalu dibuatkan daftar yang akan memuat
hasil seleksi.
“Selanjutnya 100 oran itu proses seleksinya, akan dipersilahkan pada
masyaakt untuk menilai pemimpin muda versi PKS yang mempunyai
kompetensi ke depan. Mereka harus visioner dan cerdas,” terang Anis di
sekertariat caleg DPR RI PKS di Makassar, Jumat (10/10).
Ketua TPPN ini menambahkan, bahwa 2-3 hari dideklarasikan 100 tokoh
pemuda versi PKS, mereka lalu dibuatkan forum sebagai wadah untuk
menyampaikan ide-ide tentang bangsa ini.
Digambarkannya, politisi yang berasal dari daerah yang sama dengan
wapres ini menilai, jika masa reformasi 10 tahun ini mengalami stagnasi,
serta perubahan yang sangat lambat. Pemerintah hanya mampu melakukan ‘tanggap darurat’ ketimbang mengantisipasi.
“Kalau sudah terjadi, baru dilakukan tanggap darurat. Setelah kejadian barulah masalah itu ditanggapi ” tukasnya.
Ia juga menyatakan bahwa pemimpin muda yang dimaksud bukan hanya
hanya jabatan semata. Tapi, sebuah fungsi kepemimpinan, termasuk
sebagai presiden. Sebab, masyarakat lebih bisa memilih dengan baik,
dari banyak nama yang ditawarkan.
“Pemimpin muda lebih cepat merespon apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini, mereka speedynya lebih tinggi,” tegas Anis.
Sebenarnya, lanjut Anis, PKS menginginkan seorang pemuda yang bukan
hanya mampu mengambil alih kekuasaan saja, sebab hal itu tidaklah
terlalu sulit. Yang sulit adalah mengambil alih tanggungjawab yang
besar. Dan hal ini tidak sulit jika terjadi kaderisasi pemerintahan
oleh pemerintah terdahulu.
“Sejauh ini, mitos yang dicekoki oleh pemuda adalah kalau belum
matang jangan muncul dulu. Sehingga, tahun-tahun yang lalu tidak
terjadi kaderisasi pemerintahan,” terang Anis.
Mengenai capres alternatif ini, Anis menegaskan akan melakukan dua
hal. Yakni, berkoalisi dengan partai lain dan atau memilih satu dari
100 tokoh pemuda yang akan dideklarasikan 25 Oktober mendatang, jika
PKS tidak mampu meraih 20% suara secara nasional.
“Mengambil capres dari 100 orang itu, akan kita lakukan karena itu
alternatif kami, dan merupakan referensi dari orang banyak,” tandasnya.
PKS Deklarasikan Pemimpin Muda
Posted on Oktober 11th, 2008 at 5:18 pm by nasrulwahdi and tagged Pemimpin Muda
Gerakan Nasional Peduli Tetangga yang dicanangkan PKS diberhentikan sementara hingga akhir Desember 2008. Untuk mengisi kekosongan, PKS akan menggelar Deklarasi Pemimpin Muda 25 Oktober 2008 di Gelora Bung Karno, Jakarta.“Dari hasil rapat kemarin, sebagai penganti program Gerakan Nasional Peduli Tetangga, sementara kita buat Deklarasi Pemimpin Muda 25 Oktober, di Gelora Senayan,” jelas Humas PKS Ahmad Mabruri, kepada INILAH.COM, Rabu (8/10) malam.
Mabruri mengaku, sudah lebih dari 100 orang dari berbagai kalangan yang akan mengikuti kegiatan tersebut. Seratusan orang tersebut berasal dari kader PKS sendiri maupun di luar PKS. Namun, Mabruri enggan menyebutkan nama-nama yang telah bersedia ikut serta dalam acara itu.
“Semuanya anak muda dari kalangan bisnis, LSM, birokrat. Nggak bisa diberitahu nama-namanya siapa saja. Nggak enak. Mungkin saja nanti dia malah tidak datang,” paparnya.
« Previous Entries
|
|
|